“Saya Akhwat, Berjilbab Hitam”
Mar 21st, 2007 by burhanshadiq
Seorang akhwat muslimah pernah berkunjung ke rumah. Dari beliau saya mendapatkan sebuah kisah menarik, yaitu sebuah kegalauan hati saat harus berdakwah di SMA tercinta. Awalnya ia merasa biasa saja dan sangat bersemangat memberi materi taklim kepada adik-adik kelasnya. Namun lambat laun sebuah fitnah melanda dirinya. Suara-suara miring tentang dirinya mulai santer terdengar. Anehnya, suara itu justru datang dari aktivis dakwah lain yang notabene beda tempat ngaji sama dia. Tentu saja tidak hanya tempat ngaji, tapi juga apa yang dikaji, ustadz siapa yang memberi materi dan teman-teman ngajinya.
“Dek, jangan ngaji di tempat mbak itu. Jilbab mbak itu item-item, gelap, serem kayak teroris…” Paling tidak kalimat itulah yang sampai ke telinganya. Diakui atau tidak, kalimat itu cukup mengganggu konsentrasi dakwahnya. Ia mulai berpikir dan berintrospeksi, apa yang salah dengan dakwahnya selama ini. Baginya dakwahnya biasa saja, tidak pernah ada kalimat kekerasan keluar dari mulutnya. Tetapi herannya, kenapa ia dicitrakan semacam itu.
Saya yang mendengar kisah ini tersenyum kecil. Saya hanya heran, kenapa fenomena semacam ini terus saja ada dan tidak pernah bisa hilang. Dulu, beberapa tahun lampau saya juga mendapatkan fitnah serupa. Teman-teman aktivis harakah lain juga melakukan strategi bad imaging itu pada saya. Waktu itu, saya easy going saja, yang penting dakwah Islam terus berjalan. Namun tentu saja, setiap orang tidak bisa easy going seperti saya.
Memang strategi bad imaging di dunia dakwah sering terjadi. Biasanya muncul karena persaingan yang tidak sehat dalam mencari perhatian mad’u. Mereka yang tidak suka langsung melakukan pencitraan buruk terhadap komunitas kompetitor yang sudah dianggap ancaman, bukan lagi pesaing. Keberadaan kompetitor dilihat sebagai rival yang siap menghabisi eksistensinya, bukan dianggap sebagai pesaing yang akan memotivasi mereka. Hal ini diperparah lagi dengan stereotype yang memang sangat khas pada masing-masing harakah.
Kerudung Hitam versus Kerudung Bunga
Masing-masing harakah telah memiliki ciri khas dalam penampilan kadernya. Saking khasnya, seorang kader langsung bisa dikenali dari jenis pakaian apa yang dia kenakan. Sebuah harakah misalnya, sangat terkenal dengan akhwat berjilbab lebar, besar, dan dengan pilihan warna gelap. Kalaupun ada warna merah, biru, atau hijau, pilihannya justru pada warna-warna tua yang kalem dan tidak mencolok. Saat melihat akhwat dengan jilbab semacam ini, dengan mudah orang akan mencitrakannya pada sebuah harakah tertentu. Namun ada pula harakah yang memiliki ciri yang sungguh berbeda dengan yang saya sebutkan di depan. Akhwatnya mengenakan jilbab yang cenderung berwarna terang, dihiasi dengan beberapa motif bunga, pin lucu, bahkan asesoris tambahan lainnya. Kerudung yang dikenakan pun juga relatif memilih warna yang cerah, putih, atau warna-warna muda. Dengan dua pilihan ini akan nampak sungguh besar perbedaannya. Muslimah dengan jilbab hitam, bahkan kadang bercadar serba hitam, dan muslimah dengan pilihan jilbab terang, cerah, dan penuh bunga.
Apakah berhenti di sini? O, tentu saja tidak. Penampilan yang berbeda ini nampaknya berimbas pada sikap yang mereka terima. Masyarakat awam tentu saja secara naluri lebih menyukai akhwat yang cerah, karena mereka lebih familiar dan ramah secara penampilan. Apalagi bila ternyata akhwat dengan penampilan ini tidak begitu banyak muncul di layar teve sebagai istri para tersangka terorisme. Sementara akhwat dengan penampilan serba hitam, terpaksa harus menerima konsekuensi pensikapan yang tidak mengenakkan dengan atribut yang disematkan media massa dan masyarakat kepada mereka. Apalagi diperparah, istri para tersangka terorisme lebih sering muncul dengan jilbab pilihan warna ini dan bahkan bercadar.
Stereotype seperti ini nampaknya tidak hanya berimbas pada pergaulan dengan masyarakat awam. Para pegiat dakwah pun malahan menggunakan perbedaan stereotype ini sebagai landasan bermuamalah. Kalimat “laisa minna” yang berarti bukan dari golongan kami mudah saja meluncur dari lisan saat mengomentari seorang pegiat dakwah yang lain yang tidak berpenampilan seperti dirinya. “Dia bukan akhwat kita…” kalimat ini juga akrab terdengar. Ada istilah akhwat kita dan akhwat mereka, ada istilah ikhwan kita dan ikhwan mereka, ada pula yang lebih parah ustadz kita dan ustadz mereka. Ummat islam yang duah terkotak-kotak, semakin kecil saja dengan pengotakan ini. Ummat yang awalnya terbagi menjadi dua dikotomi, kaum awam dan kaum aktivis, menjadi terkotak lagi aktivis kita dan aktivis mereka. Sungguh memprihatinkan!
Gandeng Tangan, Menangkan Pertarungan
Ring tinju yang sudah digelar antar aktivis seharusnya tidak perlu ada. Ruangan yang sempit sebagai ajang rebutan, juga selayaknya dihapuskan. Bila harus bersaing di lahan yang sama, sebaiknya tidak perlu menggunakan kalimat penjegalan. Bermainlah secara fair dan tidak perlu saling menjatuhkan. Beradu program, rencana yang matang, dan konsep dakwah yang berpikir jangka panjang lebih penting, daripada sekedar mencari kelemahan lawan dan berdiri di atas penderitaannya. Tak peduli apakah ia berkerudung hitam ataukah penuh bunga dan berwarna terang. Mereka adalah para pegiat dakwah yang bersama-sama berkorban waktu dan tenaga untuk menghasung manusia kembali kepada Rabbnya. Mereka tidak mengajak kepada golongan, partai atau bahkan kelompok, namun mereka adalah da’i dan da’iyah muslim. Mereka mengajak kepada keindahan dan kebenaran islam, bukan untuk menambah suara dalam pemilu yang akan datang.
Simpan kuku-kuku tajam kita, jangan biarkan ia merobek kulit halus sesama saudara. Simpan kata-kata pedas yang membuat kuping merah menyala, gantilah dengan kata-kata sopan, lemah lembut, dan bersahaja. Gandenglah tangan, menangkan pertarungan. Biarlah kerudung mereka hitam, cokelat, atau apapun warnanya. Biarlah kerudung mereka cerah, terang, atau penuh dengan bunga. Satu hal yang harus diprioritaskan, generasi ini perlu diselamatkan. Kalau bukan dengan para aktivis kita bekerjasama, maka apakah kita akan bekerjasama dengan musuh-musuh kita? (burhanshadiq@yahoo.com)

assalamu`alaykum
setuju ya ikhwah….
satu sama lain sudah diberi “job” maisng2 jadi ga perlu rebutan mad`u seperti itu.
Tapi saya ga tau, yg paling saya ga suka dari ikhwah yg berharokah itu kalo masuk LDK tertentu agenda utama nya itu kok ya rebutan mad`u?! hampir selalu menginginkan agar organisasi itu nanati dikuasai oleh harokah tempat dia ngaji awal. Padahal sudah dibilang suruh netral. mentalnya itu lho yg ga dewasa….
jadi nyebelin…..
anak2 yg masih baru mau ngaji jadi kebingungan ini pada lagi ngapain sih? ngomongin kok yg ruwet2..?
Tapi kadang dari yang berjilbab gelap itu kadang (kalo di tempat saya) kebanyakan ga bisa ramah dengan yang jilbab cerah, walaupun sudah pake besar.
Ada komunitas masjid di tempat saya yg kalo saya kesitu dan ngajak salaman, merekanya kayak ga nyangka mau diajak salaman. dan walaupun saya datang duluan, ga pernah ngajak salaman duluan.
PAndangan matanya itu memang ga ramah, heran………..
sama2 ibu 2 sepuh yg datang shalatt di masjid itu pun mereka cuek…. lho2 apa ya kalau ibu2 kerudungan biasa gitu ga pantas dihormati tho? Wong bisa jadi mereka lebih ikhlas sholatnya daripada akhwat2 itu… bisa jadi lebih banyak ibadahnya..
Ga tau kenapa? jadi saya rasa masing2 itu per\rlu sekali memahami keadaan. Bukan yg jilbab gelap saja yg dikonotasi miring, yang cerah pun kena.
Wassalam
mohon saran dari antum
That’s way. itulah kenapa tulisan ini perlu hadir. Untuk memberi sedikit masukan kepada kita semua bahwa berjilbab seharusnya lebih cantik dalam hal akhlak dan pergaulan sesama ikhwah.
Saya kenal beberapa tokoh yang ilmunya luas dan berharakah, namun sikap mereka sangat dewasa menyikapi perbedaan. Hanya pada wilayah grass root saja barangkali yang suka mencaci maki harakah yang berbeda dengan mereka.
Kalau untuk masalah aneksasai atau hasrat yang luar biasa ingin menguasai, hal itu sangatlah wajar bila memang ada agenda politik terselubung di belakangnya. Sebagai sebuah cara kederisasi, penggalangan dana yang luar biasa dari kampus itu sendiri dan wadah strategis untuk melakukan perubahan di kalangan intelektual muda muslimnya. Ini bukan sebuah suudzon, tapi berdasarkan dari ngobrol-ngobrola dengan beberapa aktivis kampus di jaman saya dulu.
assalamualikum….
he…he… pa kabar bang burhan…?
yup..ane setuju tuh bang..
mang penyakit yang kaya begini susah ilang dari zaman baheula….ane cuma bisa senyum doank….abis mo ikutan koment belum cukup umur…he..he…
assalamualaikum
mas burhan saya ingin sekali dikasih resep dari abang gimana sih untuk menjadi seorang ikhwan yang baik dimata akhwat….?
mohon di bales di email saya ini ya bang : bang.jamal@gmail.com
terimakasih n wassalamualaikum
udah ane emailin kang
subhanallah, sungguh artikel yang sangat bagus ya akh
semoga kita tidak termasuk golongan orang yang mencakar kulit saudara sendiri
iyah neh yg ngaku ikhwan or akhwat jg asobiah gt bukanya sesama muslim itu bersau dara klo seperti kejadian diatas itu sama saja kita telah melakukan syrik tafaruk klo gt kita sudah melanggar aturan Allah sadar lah saudara2 ak
Assalamualaikum.
semoga allah berikan kesehatan selalu buat antum.
artikelnya ajib banget,emang itulah fenomena yg allah berikan u kita kalo ga gt ga rame heeeeeeeeeeee…
u para akhwt n ikhwh yg msh bertengger dg atribut selain atribut ilallah…cpt2 intropeksi diri..jazakumullah.
saatnya kita tunjukan taring kita…..saatnya kita bangun dr tidur panjang…..saatnya kita kmbali ke hilafah islaminyyah dg lisan dan besi….
islam bukan drama kolosal…islam bukan baru hadir….
islam bukan sekedar kurikulum Ldk……tapi islam adalh perjuangan yg membutuhkan pengorbanan harta dan jiwa.
bukankah qt hidup dalam lingkungan yang beragam….dan sadar nggak sadar itulah ladang dakwah qt…
harakah adalah tempat qt menimba ilmu dan terjunnya tidak lain dan tidak bukan adlh ke masyarakat umum. kalau qt mencoba untuk mengkotak2kan siapa golonganku dan siapa yang bukan, pernahkah terfikir siapa yang nantinya akan mengusung jenazah qt? apakah qt jg bisa meminta, nantinya muslim dari harakah sy saja yang mengusung jenazah…..astaghfirullah, mereka juga daging qt…..ketika mereka terluka, bukankah qt juga tersakiti?
mari qt rapatkan barisan dengan muslim manapun…..karena ketika terjadi kerusakan akhlak dan moral seorang muslim disekitar qt, maka muslim yang berakhlak mulialah yang dimintai pertanggungjawaban olehNya……………..