0

Mendesak, Lembaga Kader Dakwah Remaja

Oleh Burhan Sodiq

Semua orang sangat tahu bahwa keberlangsungan dakwah ditentukan oleh generasi penerusnya. Bila tak ada generasi penerus maka yang terjadi adalah dakwah tidak akan berjalan. Dia akan mandeg di tengah jalan, tidak berkembang dan tidak jalan. Oleh karena itu memahami persoalan ini menjadi sangat penting. Bagaimana generasi sekarang mulai memerhatikan generasi penerus berikutnya. Sesiap apa mereka melanjutkan estafet perjuangan ini.

Cobalah kita tengok apa yang terjadi dengan proses penyiapan generasi ini. Hadirnya tpq dan tpa di masjid masjid kaum muslimin adalah berita gembira yang perlu diapresiasi. Mereka dengan peluh keringat tulus membina dan mengajarkan al Quran. Kadang di antara para ustad dan ustadzah tpq dan tpa itu tanpa dibayar sepeserpun. Mereka mau dan mampu mengajar anak anak kaum muslimin yang notabene masih kecil untuk belajar ngaji.

Proses ini terus berlangsung. Hingga akhirnya anak anak itu tumbuh menjadi remaja. Mereka sudah mulai enggan mengikuti TPQ dan TPA lagi. Karena mereka merasa sudah bisa mengkhatamkan iqra. Mereka merasa sudah bisa membaca al Quran, sehingga tidak perlu lagi mengikuti TPQ atau TPA. Wal hasil, tempat konsentrasi mereka berubah. Tidak lagi di masjid tetapi justru di tempat tempat hiburan. Mereka mulai sering main playstation, menonton bioskop, nongkrong di mall dan karoke.

Hilang sudah generasi muda ini. Mereka larut dengan hingar bingar hiburan yang melenakan. Mereka tidak lagi akrab dengan masjid dan tempat pertemuan keislaman. Pakaian mereka jauh dari nilai keislaman yang sopan. Akhlak mereka juga tidak mencerminkan iman yang ada di hati mereka. Mereka jauh dari Islam.

Perlu Ada Lembaga Dakwah Remaja
Hilangnya rantai dakwah inilah yang membuat kita harus berpikir bagaimana merancang sebuah lembaga semacam TPQ atau TPA tapi fokus pada penggarapan anak muda dan remaja. Lembaga itu nantinya akan berfokus pada pendidikan agama lanjutan pasca TPQ atau TPA. Materinya bisa soal akidah, akhlak dan banyak hal lain. Harapannya dengan lembaga ini anak muda masih bisa diikat dalam masjid. Karena remaja masjid di masing masing masjid memiliki kualitas yang beda beda.

Remaja masjid yang ada sekarang ini kurang mampu memanaje dirinya dengan baik. Ada komunitas remaja masjid yang solid dan didukung takmir secara intensif. Tetapi yang ada di lapangan justru sebaliknya, sebagian besar remaja masjid kebingungan harus mengisi kegiatan mereka dengan apa.

Maka perlu kiranya para alim ulama merumuskan materi, merancang silabus, dan juga menerbitkan buku materi dakwah remaja yang pas buat mereka. Sehingga proses pengkaderan generasi ini akan terus berlanjut. Amat disesalkan bila generasi dakwah ini putus di tengah jalan karena tidak bisanya kita melanjutkan proses yang berjalan.
Ketika mereka sudah ada buku panduan, silabus pendidikan, dan dukungan dari takmir, maka mereka akan bergerak. Membuat jejaring yang sangat kreatif dan solid. Dakwah menjadi semarak di kalangan remaja.

Mereka mendekat ke masjid karena di masjid banyak hal yang bisa dilakukan. Mereka bisa menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan, bukan masjid yang selalu dikunci kecuali pas shalat saja. Masjid benar benar menjadi pusat kegiatan remaja dan ramah terhadap mereka.

Dukungan dari takmir juga mutlak diperlukan. Sebab bila tidak, maka hal ini akan menjadi penghalang. Biarkanlah remaja
memaksimalkan potensinya dan mengembangkan kemampuannya dengan wahana masjid. Jangan dicurigai dengan kecurigaan yang tidak mendasar.

Bila semua bersinergi, maka program pengkaderan generasi penerus dakwah menjadi sebuah gerakan yang akan diperhitungkan lawan. Sehingga akan ada generasi penerus dakwah di masa yang akan datang.

0

RIP VS Innalillahi

Oleh : Burhan Sodiq

Meninggalnya sosok Uje nampaknya banyak mengundang simpati dari banyak kalangan. Tidak terkecuali para artis yang merasa berduka sepeninggal sosok ustad gaul itu. Di sebuah media sosial twitter seorang artis mengucapkan RIP untuk Uje yang berarti rest In Peace. Sontak saja ucapan ini mendapat kritikan dari banyak pihak. Karena RIP bukan untuk muslim, karena kalau untuk muslim lebih baik menggunakan Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Sang artis marah dan sewot. Karena dia merasa itu hanya sekedar ucapan. Jadi tidak perlu dipersoalkan. Ucapan bela sungkawa tidak perlu dikotak kotakkan. Mana untuk muslim dan mana yang bukan untuk muslim. Artis ini mungkin tidak sadar atau tidak mau sadar saat dikritik. Karena memang muslim dan bukan muslim harus dibedakan. Agar adil dan sesuai dengan hak masing masing.

Sebutan memang bukan semata soal sebutan. Kata sarjana mungkin. Seorang yang sarjana kedokteran pasti juga tidak mau kalau disebut sebagai sarjana seni. Demikian juga sebaliknya, seorang sarjana seni tidak akan mau disebuat sebagai sarjana kedokteran. Meski hanya soal sebutan, tetapi tidak bisa dianggap sama. Harus disesuaikan dengan kotaknya masing masing.

Seorang gadis muda pasti juga akan sewot kalau kemana mana dipanggil dengan sebutan Ibu. “Ibu mau kemana. Mau beli apa bu?” Karena dia masih muda, dia pasti sangat marah bila dipanggil dengan sebutan Ibu. Demikian pula seorang wanita lanjut usia akan merasa tidak rela kalau dipanggil Neng. Karena sebutan itu akan dianggap menghina dia.
Jadi sebutan itu tidak bisa dianggap sama. RIP dan Innalillahi wa inna ilaihi rajiun jelas sangat berbeda. Ada nuansa doa dalam kalimat yang kedua. Meski kalimat RIP kesannya lebih menginternasional, karena dia lebih barat dan dikesankan lebih modern.

Kita umat Islam maka sudah seharusnya bila lebih suka menggunakan budaya Islam. Mengenalkannya pada masyarakat. Agar keislaman mereka semakin kental. Jadi tetaplah berislam, dengan budaya dan kekhasan yang melekat padanya.
Menjadi modern bukan berarti meninggalkan islam dan memakai barat sebagai acuan dalam bermuamalah. Tetapi bagaiaman tetap memahami dunia dengan logika berpikir islami.

0

Harus Full Nggak Boleh Setengah Setengah

Apanya yang full? Tentu saja bukan soal mengisi bensin bro. Tapi penghambaan kamu kepada Allah harus full, nggak boleh setengah setengah.

Adakalanya kita suka banget sama ibadah ibadah yang kita suka. Misalnya suka banget sama namanya ibadah hari raya. Sebab apa di sana banyak banget makanan. Ada juga bagi bagi uang. Tapi di saat ibadah yang lain kita mendadak males dan tidak mau melakukan. Semisal shalat wajib lima waktu, puasa ramadhan dan yang lainnya.

Itu namanya kita masih setengah setengah dalam beribadah kepada Allah. Allah itu harus diibadahi dengan sepenuh hati dan jiwa. Tidak boleh diduakan dengan mengibadahi yang lain. Harus full cuman Allah doang. Tak ada yang lain.
Inilah asyiknya jadi seorang muslim. Kita cuman nyembah satu satunya Ilah (Tuhan) yang harus kita ibadahi sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Tak ada yang lain di hati, cuman Allah doang. The One and Only.

Makanya dalam Islam niat ibadah itu menjadi penting. Kamu niat shalat ke masjid buat siapa bro? Kalau seandainya niatan kamu ke masjid karena pengen ketemu sama si fulanah yang bermukena biru, maka itu sama saja niat kamu ngga sepenuh hati. Kamu berangkat rajin banget ke masjid, bahkan sebelum adzan kamu sudah bergegas ke masjid. Setelah diselidiki, ternyata niatan kamu cuman pengen liat wajah manisnya si fulanah yang berkerudung biru itu. Aw aw aw habis deh pahala kamu.

Lalu saat kamu pengen mengumandangkan adzan. Ternyata niatnya juga agar didenger sama si dia. Agar dia jadi jatuh cinta sama kamu. Agar dia jadi seneng sama kamu. Agar dia jatuh cinta sama kamu. Agar dia memuji kamu dengan bilang “Wow, suara kamu bagus banget ya, kayak muadzin mekah dan medinah.” Aih aih langsung deh helm kamu ga bakalan muat karena kamu mendadak jadi besar kepala.

Jadikan satu tujuan cuman buat Allah doang. Kenapa ke mesjid, karena Allah. Kenapa adzan, karena Allah. Kenapa pake peci, karena Allah. Kenapa mendadak pengen taubat, karena Allah. Bukan karena siapa siapa, cuman karena Allah doang. Wuih itu baru cakep banget!

Jadi Allah itu cuman satu satunya tujuan dalam hidup kita. Dengan begitu akidah kita jadi bersih dan bening. Tidak ada noda kesyirikan sedikitpun. Tidak ada pasang niat niat aneh yang sama sekali tidak dikenal di islam. Tidak ada buat si ratu ini, tidak ada buat pohon keramat ini, kereta keramat itu dan lain lainnya. Cuman satu, Allah doang!

Tancepin di Hati Kamu!
Tidak ada yang bakalan bisa ngasih kita keberuntungan kecuali cuman Allah. Tidak ada yang bakalan bisa ngasih kita rejeki kecuali cuman Allah. Jangan pernah deh pergi ke dukun biar dikabulin keinginannya. Pengen masuk jurusan kuliah favorit pergi ke dukun. Itu salah banget! Karena apa? Itu artinya, kamu mencari kekuatan lain selain kekuatan Allah yang Maha kuasa. Maka kuatin akidah kamu. Kuatin keyakinan kamu kepada Allah. Bahwa hanya Allah satu satunya Ilah yang kita sembah. Hanyalah Allah yang bisa ngasih kita kemudahan.

Tancepin dalam dalam di hati kamu bahwa segala kesulitan kita hanya akan selesai oleh kekuatan Allah. Segala kegelisahan kita bakalan hilang hanya karena kekuatan Allah. Bukan karena kekuatan setan, bukan karena kekuatan jin atau demit sekalipun. Hanya Allah yang bisa membantu kita.

Jangan dimasukin ke dalam hati bisikan bisikan setan yang ingin menggelincirkan kamu. Misalnya merayu kamu untuk mengambil jalan instan bertanya ke orang pintar. Orang pintar yang dimaksud adalah para dukun yang merupakan duta dutanya setan. Mereka melakukan ritual ritual untuk mendapatkan bantuan dari setan bukan dari Allah SWT.

Luruskan akidah kamu selama ini. Menghambalah hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk. Makhluk tidak bisa melakukan apa apa. Mereka tidak bisa memberi keuntungan dan kerugian kecuali seijin Allah. Hanya Allah yang bisa menentukan takdir kita. Jangan menghamba pada pikiran pikiran aneh yang mungkin selama ini menghantui kamu.

100 persen Hanya Untuk Allah
Jadi mulai sekarang ayo bersih bersih hati. Kalau selama ini masih suka menduakan Allah dalam berbagai ibadah kita, segeralah kita bersih bersih hati. Jangan lagi mencampuradukkan niat dengan tujuan tujuan selain Allah. Tidak boleh ada tujuan lain selain Allah. Bersihkan hingga bisa 100 persen semua untuk Allah. Shalatmu, ibadahmu, dan hidup matimu cuman buat Allah semata, tidak ada selainnya.

Di saat bangun pagi, segera mengingat Allah dengan shalat shubuh penuh semangat. Tidak boleh loyo, males malesan karena Allah tidak suka sama anak remaja yang males. Di siang hari saat beraktivitas harus dengan semangat optimal. Kenapa? Karena tujuan kita adalah Allah. Sekolah, belajar, beramal shalih, taat sama ortu semua karena Allah. Ketika malam, segeralah istirahat, biar segera bisa bangun awal. Kemudian shalat tahajud untuk Allah. Dengan begitu seluruh menit yang kita punya, seluruh nafas yang kita hembuskan hanya untuk Allah. Dan ketika kelak kita menutup mata, kita akan menutup mata karena Allah dan bertemu dengan Allah ta’ala di akhiratNya.

(dimuat di majalah remaja Openminds)

0

Jadual Burhan Sodiq Bulan Mei

Jadual Burhan Sodiq
Bulan Mei
1. Jumat 3 Mei 2013 Polines Semarang
2. Ahad 5 Mei 2013 UIN Pekanbaru
3. Kamis 9 Mei 2013 Poltekkes Surakarta
4. Sabtu 11 Mei 2013 Muslimdaily Solo
5. Sabtu 18 Mei 2013 Fakultas Ekonomi UMS Solo
6. Ahad 19 Mei 2013 Politama Solo
7. Sabtu 25 Mei 2013 Outbond Victor Computer Solo
8. Jumat 31 Mei 2013 Kampus Unnes Semarang

0

bukan semata soal harga (mungkin)

Sudah malam, tapi jemari ini pengen cerita. Siang tadi tiba tiba ada temen sms kalau dia bakalan mundur dari proyek karena ada seseorang ngasih harga lebih murah ke dia. Saya sih ga ada masalah. Karena bisa jadi orang itu bakalan lari dari kita hanya karena selisih harga serupiah saja. Karena konsumen itu bakalan bersikap gitu. Meski selisih cuman seribu—yang senilai ama tarif parkir, tetep saja dia bakalan ngacir pindah ke yang lebih murah.

Padahal dia lupa bahwa ada kualitas yang dipertaruhkan. Kalau dengan selisih 1000 misalnya, ternyata hasil produk itu jauh lebih jelek, apa tidak sayang konsumen yang bakalan membelinya? Kalau saya selalunya memposisikan diri saya sebagai konsumen yang akan membeli produk saya.

Misalnya buku nih. Saya bikin buku saya tanya diri saya dulu. Saya kira kira kalau jadi anak muda bakalan mau beli buku ini enggak? Kalau jawabannya engga ya tidak perlu saya terusin bikin bukunya kan?

Kecuali kalau kemudian saya bakalan bilang, sebagai pembeli saya pengen buku yang kayak gini dan gini. Saya pengen yang kemasan seperti ini. Kalau ini semua jalan, biasanya yang sudah sudah, produk saya bisa diterima pasar.

Maka bikin produk itu memang tidak melulunya hanya soal harga miring saja. Tapi benefit apa yang bakalan di dapat dari suatu produk itu apa. Kalau ada nilai plus yang ditawarkan dan itu khas, maka harga menjadi tidak begitu signifikan.

0

Ngobrol Poligami

Kemarin posting di fb soal poligami. Berawal dari obrolan sama istri yg cantik, Dwisusi. “Allah itu kan tahu soal hambaNya. Kalau si cewek itu pasti pencemburu. Tetapi kenapa Allah ngebolehin suami nikah lagi ya.” Dengan polos dan penuh senyum istri saya menjawab, “Karena istri itu penuh cinta. Dan rasa cintanya diwujudkan dalam kecemburuan itu.”

“Oh gitu ya Mi. Berarti aku boleh dong mi?”
“Boleh apa?” Wajahnya yang manis berubah menjadi merah.
“Boleh ambil cemilannya lagi.”
“hahaha…”
Meledaklah tawa kami berdua.

Tapi diskusi ini saya pikir masih akan berlanjut. Saya pikir asyik aja mendiskusikan hal ini dengan istri. Selain agar istri lebih dewasa, saya juga bisa memperkaya wawasan saya dengan diskusi seperti ini.

Saya pernah baca sebuah artikel menarik, kalau poligami sejatinya mencarikan saudari buat istri. Maka datangnya istri kedua tidak semestinya merusak kebersamaan bersama istri pertama. Dia harus mencintai istri pertama, anak anak dari istri pertama dan seterusnya. Singkatnya, “Kalau dia mencintai istri dan anak anak ku, maka aku siap mencintainya.”

Urusan menjadi pelik bila ternyata sang suami tidak mampu bersikap balance. Condong kepada yang muda dan meninggalkan yang pertama. Harusnya tidak seperti itu. Dua duanya melengkapi menjadi satu paket yang indah. Suami menjadi lebih mudah urusannya. Lebih siap dakwahnya dan lebih bersemangat hidupnya. Karena dia tidak hanya ditemani satu istri tetapi lebih dari itu.

0

Memberi Waktu Untuk Hadirmu

Oleh Burhan Sodiq

Setiap kali menghadiri walimatul urs, ada desir hati yang tak bisa ditahan. Teringat momen indah itu. Saat beberapa tahun lalu, kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk pertama kalinya. Ada sebuncah rasa yang tidak menentu. Rasa yang campur aduk antara bahagia, senang, deg degan dan gelisah tiada menentu. Yah, lelaki itu yang akhinya menjadi milik Anda. Menjadi suami Anda dan menjadi belahan hati Anda.

Suami adalah anugerah besar dari Allah ta’ala untuk Anda. Ia adalah pasangan hidup yang seharusnya menenangkan hati. Hal ini baru akan terasa kita syukuri manakala kita menemukan mereka para gadis yang masih saja sendiri di usianya yang tak lagi muda.

“Alhamdulillah, saya sudah menikah.”

Itulah kelegaan yang akan kita ucapkan. Meski kelegaan itu selanjutnya menjadi sebutir tanya, apakah suami kita sekarang ini sudah seperti yang kita inginkan, atau malah suami kita sekarang adalah sebuah kesalahan pilihan yang tidak sengaja. Humm…

Inginnya kita, suamilah sebagai sosok yang selalu bisa memberi rasa tenang. Memandang senyumnya yang mempesona, menenangkan gemuruh gejolak rindu di dada. Kadang kala kita ingin kembali ke masa muda. Berbagi sms dengannya dengan hanya berkata, “Abi, umi kangen.” Tapi rasa rasanya hal itu terasa seperti kekanak kanakan. Apa yang akan dipikirkan sang suami manakala kita sebagai istri memberi sms seperti itu. Apalagi baru beberapa menit yang lalu kita berpisah dengannya. Mungkin orang akan bilang “Sungguh terlalu…” Padahal itu adalah hal yang baik saja bila kita lakukan.

Ketenangan itulah kita selalu inginkan. Setiap perkataan suami bisa menenangkan hati kita. Pikiran panik, kalut, bingung dan serba salah, mendadak terganti dengan perasaan aman dan nyaman saat diskusi dan mendapat solusi darinya. Dengan kata kata bernada rendah, suara yang berat dan dalam, mampu mengguyur kobaran kepanikan yang kita rasakan.

Darinya kita bisa merasakan nikmatnya kasih sayang, mawaddah dan rahmah, yang akan membantu kita untuk bisa menjalani hidup sebagaimana yang dikehendaki Allah Ta’ala. Darinya pula kita menginginkan bimbingan agama, pengetahuan soal apa saja yang bermanfaat buat diri kita. Amboi alangkah indahnya bila hidup bisa seperti itu. Ada masa masa dimana kita sebagai suami dan istri bisa duduk dalam satu majelis, suami bak seorang ustad yang mendidik kita dengan sabar. Tidak ada bentakan, tidak ada pukulan dan tidak ada wajah yang nampak sangar. Bersamanya, mengarungi lautan luas, akan menjadi jembatan menuju surga yang abadi, dan jalan untuk menjemput segala cita-cita dan impian.

Apa Peran Kita?
Sekarang saatnya kita bertanya, apa peran kita terhadap karakter suami kita yang mungkin tidak sebagus yang kita harapkan. Bisa jadi kalau kita mau meneliti dan mau jujur, kita justru menjadi orang yang pertama kali bersalah atas apa yang terjadi pada suami kita.

Kenapa suami kita tidak bisa meluangkan waktu untuk kita? Bisa jadi jawabannya justru terpulang pada kita, kenapa kita tidak menyediakan waktu lebih untuk dia? Banyaknya pekerjaan domestik, mengurus anak, masak, dan membersihkan rumah kadang menyita waktu kita.

Pada akhirnya saat suami pulang kerja, kita juga dalam kondisi lelah. Kaki rasanya pegal pegal, tubuh rasanya sempoyongan, mata rasanya berat tuk bertahan. Akhirnya lelaplah kita tertidur, beranjak ke alam mimpi meninggalkan suami sendiri.

“Abi, aku tidur duluan ya.”

Suami pun tak tega menghalangi. Dia pun mencari cari kesibukan sendiri. Apakah itu membaca buku, atau malah menonton televisi. Rumah tangga menjadi garing dan gersang. Pertemuannya tidak sering dan tidak berkualitas.

Apalagi bila kita kerja di luar rumah. Dengan tekanan tinggi di pikiran dan badan. Lelah bertumpuk tumpuk kemudian mempengaruhi emosi kita setiap hari. Pembicaraan tidak ada yang menarik. Berakhir dengan pertengkaran hebat yang menyisakan trauma mendalam.

Nah, sekarang saatnya mengubah kebiasaan. Menjadi istri yang lebih menarik hati dengan meluangkan waktu untuk suami lebih banyak lagi. Tidak menyisakan satu menit pun pertemuan dengan sia sia. Setiap menitnya menjadi momen berharga untuk mengukur kemesraan berdua.

Mesra tidak selalu harus berakhir dengan sesuatu yang ada hubungannya dengan cinta. Tetapi hangatnya sapaan, tulusnya obrolan dan juga dekatnya sebuah hubungan akan menyuburkan ketenangan di dalam rumahtangga.

Suami adalah seorang partner, seorang teman dalam menjalani kehidupan di dunia, seorang yang mampu memecah kesepian. Dan istri diciptakan untuk membuat sang suami tenteram kepadanya. Perempuan merupakan mahluk yang mententeramkan, yang penuh dengan kelembutan, dia dicintai oleh jiwa, bahkan juga mampu mengikat dan melembutkannya. Dia selalu mampu menciptakan rasa nyaman karena perasaan halus yang dimiliki, insting yang tersembunyi, sifatnya yang menghangatkan, kemurahannya yang tidak mengenal batas, yang menjadikan dunia ini indah oleh kesejukan yang ditiupkannya.

Allah SWT. berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Al-ruum [30]: 21).

Kebahagiaan suami-istri menyerupai madu yang dibuat oleh dua ekor lebah, semakin besar kegigihan kedunya maka akan semakin manis madu yang dihasilkan. Karena itu, tanggungjawab akan kebahagiaan ini terletak pada pundak istri, yang pertama, dan yang kedua pada pundak suami.

Ingatlah ucapan Aisyah RA., “Wahai sekalian perempuan, Anda kalian tahu hak-hak suami kalian terhadap kalian, sungguh seorang perempuan dari kalian akan mengusap debu dari kedua kaki suaminya dengan kedua pipinya, dan demikian itulah hak suami atasnya”.

Meluangkan waktu khusus untuk berbincang dari hati ke hati. Apa yang selama ini perlu untuk dievaluasi. Apa yang selama ini harus diperbaiki. Bahkan obrolan tentang masa depan, rencana apa saja yang ingin dikerjakan untuk keluarga dan anak anak bisa menjadi salah satu alternatif bahan obrolan.

Hadirnya obrolan ini akan menjadi charger terbaik bagi hubungan yang selama ini lesu dan beku. Mengisi kembali energi cinta dan kasih sayang. Kelembutan dan juga asmara yang sempat lowbatt, bisa kembali terisi dengan baik. Luangkanlah waktumu saudariku, tuk para suami yang telah berjuang untuk kamu.

0

Cinta Hadir Saat Sudah Menikah

Jatuh cinta di saat sudah keluarga? Saya dapat pertanyaan ini pas di UMP. Pas bedah buku ada cowok nanya seperti itu. Bagaimana jika cinta datang pas kita udah keluarga. Bagaimana ya? Anda pasti juga bertanya kan? Susah soalnya jawabnya.

Kita kupas yuk. Saat orang sudah keluarga, tentunya dia sudah sadar dong banyak pasangannya itu adalah sosok yang udah dia pilih. Bener ngga? Dengan begitu dia harusnya mencintainya pasangannya itu benar. Artinya semua cintanya dia serahkan sama pasangannya. Sebesar apapun, segede apapun.

Tapi, ternyata enggak. Godaan wanita dan pria di luar sana luar biasa. Godaan itu lebih besar dari komitmen yang ada. Apalagi saat saat komitmen diuji dengan masalah. Cekcok, konflik atau apalah namanya. Lalu godaan itu datang, pasti langsung disambut hangat.

Jadi bila seorang yg udah nikah pengen nikah lagi, silakan tindak lanjuti godaan itu hingga maksimal 4. Jangan dipacarin, tetapi ajak ke arah halal saja. Mau ga nikah sama saya? Jadi istri saya yang kedua, ketiga atau keempat? Halal, aman dan terhormat.

Tapi kalau sekiranya tidak berani HALAL, jangan ditanggapi godaan itu dengan main belakang. Status tidak jelas. Selingkuhan yang dianggap benar. Segera hentikan dan bilang ke hati kalau kamu sudah menikah dan tidak bisa menerima perasaannya lagi.

Lalu bagaimana kalau yang jatuh cinta malah si istri? Kan dia ngga mungkin menikah lagi dengan pria lain. Hum, ini yang repot. Istri mudah baginya buat mencintai, tapi susah baginya untuk ngelola cemburu. Kalau dia dah buka hati buat yang lain, maka suami baginya sudah tidak utuh lagi.

0

Ceramah di Sma 1 Jatisrono

Sabtu pagi saya melesat ke SMA Negeri 1 Jatisrono. Ternyata jauh juga jaraknya. Sampai di sana saya ketemu sama pak guru dan ibu kepala sekolah. Ngobrol soal perkembangan anak didik anak dan bagaimana meramaikan dakwah islam di sekolah itu. Ibu kepala sekolah ternyata punya anak yang sekolah di SMA Negeri 1 Solo, tempat saya sekolah dulu. Obrolan pun nyambung.

Sejurus kemudian saya diminta memotivasi anak anak kelas tiga yang mau ujian. Suasana sangat ramai, seluruh penghuni sekolah hadir di lokasi acara. Mereka antuasias dengan ceramah yang bertema menangkal pergaulan bebas. Tak ada satupun yang pulang. Semua tetap di tempatnya. Jam setengah sebelas, saya tutup dengan doa. Warga semua masih tetap berada di lokasi. Meski ada beberapa yang ikutan bubar.

Saya lanjut pulang ke Solo dengan Vario Hijau. Tak lupa mampir mengisi perut dan mengisi bensin motor. Sepanjang jalan saya mikir, jalanan Wonogiri Sukoharjo sangat berbahaya. Banyak lobang tak terduga yang cukup dalam. Setidaknya kalau ngebut mungkin bisa jatuh. Makanya hati hati ya di jalan ini.

Selepas itu, kita ada rapat di RDSFM Solo. Masih membahas soal produktivitas kru. Bagaimana meningkatkan produktivitas diri dalam renungan dan produksi cd rekaman ceramah. Ini menjadi penting karena ummat butuh banyak tausyiah untuk menyemangati hidupnya.

0

Dukungan Pembaca

“Terima kasih sudah diaccept.”
“Sama sama. Dengan siapa ya?”
“Saya pembaca buku Anda. Saya suka sekali dengan buku Anda.”
“Ohya terima kasih.”

Sapaan seperti ini seringkali membuat kita lebih semangat menulis lagi. Maka jangan segan segan menyampaikan dukungan anda pada saya ya. ^_^ Karena dengan begitu kita tahu bagaimana respon mereka terhadap buku kita.