Saya Ingin Dengar Teriakanmu

 

Dunia sudah berubah. Banyak kejadian yang membuat kita membuka mata lebar-lebar. Islam sudah mulai tumbuh pesat di beberapa negara Eropa. Semakin dihantam, semakin luar penyebarannya. Islam menjadi agama yang menyenangkan bagi penduduk dunia.

Tidak cuma artis, politisi, pejabat publik, bahkan atlit berbondong bondong masuk Islam. Mereka ada yang masuk islam karena budaya, karena Quran, karena pernikahan, atau karena sebuah mimpi, tapi semuanya menegaskan bahwa Islam adalah agama pilihan.

Lalu bagaimana denganmu kawan? Apakah engkau menjadi bagian dari berita gembira ini?

Berjuta-juta pemuda berpikir keras untuk memajukan agama ini. Mereka berpikir keras untuk memajukan dakwah. Agar islam menjadi agama jaya di tengah tengah manusia. Mereka tidaklah orang yang pandai agama, mereka hanya orang biasa biasa saja. Tapi mereka paham untuk apa mereka diciptakan. Lalu, bagaimana dengan kamu?

Berjuta juta pemuda muslim, menyibukkan diri dengan kegiatan bermanfaat. Mereka meramaikan masjid, menyelenggarakan kajian kajian keislaman. Mereka melakukan dengan suka ria, tidak ada paksaan, karena tahu pilihannya adalah Allah dan RasulNya. Mereka sibukkan diri dengan itu semua.

Lalu bagaimana dengan hidupmu 24 jam sehari itu? Apakah semua hanya habis di dalam kamar dan bermain game? Atau habis di ruang ruang karoke bersama teman temanmu? Ataukah semua waktumu habis oleh canggihnya gagdetmu, iya, gadgetmu yang smart itu. Tidak adakah semenit saja mengingat Rabbmu? Aku, ingin mendengar teriakan taubatmu…

 

Merasa Kesulitan Menulis?

Oleh Burhan Sodiq

Pernahkah merasa susah merangkai ide dan gagasan dalam tulisan. Kadang sudah merasa bisa saat melihat tulisan orang lain. “Alah, kalau cuman kayak gitu, gwe juga bisa bro. Kecil itu mah!” Dengan mudahnya kita meremehkan tulisan orang, dan merasa jago dengan kemampuan diri kita sendiri.

Tapi segera setelah itu kita pulang. Buka laptop dan komputer, ternyata, susahnya merangkai kalimat pertama. Seperti tercekat, keangkuhan yang besar tadi tak cukup mampu untuk menggerakkan tangan kita mengukir kata via keyboard. Ide buntu, membeku kayak es di dalam freezer.

Inilah kendala kita dalam menulis. Susah dan sulit karena memang belum terbiasa. Tapi kalau sudah terbiasa, hanya dalam waktu singkat, kita akan bisa menyelesaikan tulisan dalam beberapa halaman. Sayangnya, kita enggan belajar. “Halah, cuman pengen nulis saja pake belajar, mending belajar sendiri ntar juga bisa.” Ilmu itu memang mahal, tidak mudah didapati dan dibutuhkan kerja keras!

Jangan Menunda, Segera Berkarya

Oleh Burhan Sodiq S.S

Gimana sih rasanya kalau selalu jadi orang yang tertinggal. Baru mikir ide, ternyata sudah ada orang yang membuat ide itu duluan. Baru wacana di kepala, eh ternyata sudah ada barangnya. Baru kepikiran sebentar sudah ada teman yang bikin dengan lebih bagus. Duh duh duh kenapa bisa begitu ya?

Penyebab utama kita sering jadi remaja telat, adalah kita tidak segera mengeksekusi ide ide kita. Allah sudah memberi kita ilham dari berbagai cara, tapi kitanya tidak segera mengeksekusi ilham itu menjadi sebuah karya besar. Kita lebih memilih menunda nundanya hingga lama banget tidak segera dilakukan.

Faktor suka menunda inilah yang selalu menjadi masalah remaja kita. Karena kebanyakan menunda, kita menjadi kehilangan momentum terbaik. Selalu saja terlambat dibandingkan yang lainnya. Kalau sudah begini yang akan menyesal kamu sendiri.

Maka tugas terberat dan terserius yang harus kamu lakukan adalah mencoba mengatasi rasa menunda ini. Mampukah kamu selalu sigap jika memiliki ide atau gagasan. Tidak pakai lama, langsung melakukan langkah langkah riil. Misalnya mengumpulkan teman tuk melakukan ide itu. Menggagasnya dengan lebih detail dan lain lainnya. Jika semua sudah terkumpul, baru eksekusi ide itu segera bisa dijalankan.

Karena apa? Jika kita terus mengikuti keinginan menunda, maka kita tidak akan pernah bisa melesat ke depan. Yang ada hanya nongkrong di belakang terus dan tidak pernah menjadi yang pertama dalam kebaikan. Karena menunda sesuatu yang baik, itu sama halnya dengan tidak mensyukuri apa yang kita dapatkan sekarang ini.

Sekarang pasang keinginan kamu. Buka seluruh sisi kepekaan kamu. Serap semua ilham yang telah Allah sebar kepada kamu. Lalu jangan menjadi pribadi penunda terus, ambil kesempatan pertama, dan lakukan segera. Sebelum kamu menyesal di kemudian hari, maka ambil keputusan secepat cepatnya.

Ibu dan Kebersamaan Keluarga

Oleh Burhan Sodiq

Dalam sebuah perjalanan saya melihat ada sebuah keluarga muslim. Ayahnya mengenakan baju gamis panjang. Ibunya juga mengenakan kerudung lebar. Nampak duduk bersama mereka lima anak anaknya memadati bus yang kami tumpangi bersama.

Ayahnya diam saat melihat anak anaknya memainkan hape. Salah satu anaknya sangat asyik memakai headset di kedua telinganya. Saya tidak yakin itu sebuah suara murattal. Sebab saya lihat kaki anak itu bergerak ke sana kemari, sembari kepalanya manggut manggut menikmati suara di telinganya.

Anak satunya lagi asyik pula dengan hapenya. Dia pegang hape itu dan tanpa peduli sekitarnya, dia main aneka permainan yang ada di sana. Sedangkan tiga anak yang lain masih kecil kecil. Anak yang paling kecil masih mencoba berjalan ke sana kemari. Sesekali abinya teriak teriak, karena anak kecil itu hampir jatuh saat berjalan. “Oey, jalannya diperhatikan. Jangan jatuh.” Begitulah teriak sang Abi.

Lalu apa yang dilakukan Uminya? Uminya asyik juga dengan hape kesayangannya. Layarnya besar, 5 inch kelihatannya. Dia hanya sesekali mengelak saat anaknya yang gadis ingin meminjam hape kesayangan uminya.

Begitulah kira kira kondisi kita hari ini. Kebersamaan keluarga menjadi sebuah barang yang sangat mahal. Jasad bisa jadi dalam ruang yang sama, tetapi masing masing sibuk dengan permainannya. Kemanakah kebersamaan itu pergi? Apakah ia tertelan oleh kesibukan yang sangat padat? Atau ia hilang terbawa keegoisan pribadi?

Hasil riset Ipsos dan Oreo 2011 lalu, dimana 50 persen orang tua Indonesia lebih memprioritaskan perekonomian rumah tangga dibandingkan memiliki waktu cukup bersama anak-anak. Tuntutan ekonomi semakin tinggi maka kebersamaan menjadi barang yang sangat mahal. Sayangnya kita tidak bisa membeli kebersamaan itu.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Anna Surtiariani, S.Psi., M.Si., untuk mencegah kualitas momen kebersamaan keluarga agar tidak memudar akibat teknologi, orang tua harus mempunyai batasan dan wawasan yang cukup agar teknologi dapat digunakan secara bijak karena orang tua bertanggung jawab atas setiap informasi yang diterima oleh anaknya melalui teknologi.

Kita Kecolongan
Seperti orang yang terheran heran, kadang sebagai Abi dan Umi, kita hanya bisa tercengang melihat fenomena ini. Saat anak anak kita tumbuh menjadi remaja remaja baru. Saat itu pula kita merasa ada apa dengan mereka. Kenapa mereka menjadi sosok anak yang kita sendiri tidak paham perilakunya.

Mereka sedang tumbuh, bunda. Tumbuh menjadi anak anak remaja yang dunianya berbeda dengan dunia anak anak sebelumnya. Mereka menjadi sosok sosok yang tidak bisa lagi dianggap anak anak. Maka tidak heran jika bunda akan temukan mereka kadang bisa bersikap sangat agresif ketika marah.

Bunda kaget, ada apa dengan anak saya. Kenapa dia menjadi seolah olah bukan anak saya? Kemana anak saya yang lucu dulu? Kemana anak saya yang periang itu? Kini yang bunda hadapi adalah anak anak dengan keinginan dia yang besar. Anak anak yang selalu ingin dituruti. Anak anak yang selalu ingin diwujudkan keinginannya.

Kita kecolongan. Masa masa pendekatan pada mereka sudah banyak kita habiskan untuk sibuk dengan diri kita sendiri. Terkadang semakin lama semakin kita rasakan kita semakin jauh dengan anak anak kita. Bukannya kita semakin dekat dengan mereka, tetapi malah kita semakin jauh.

“Bunda kemana saat aku lagi butuh bunda. Bunda kemana saat aku harus menghadapi masalah masalahku. Bunda kemana saat aku harus berjuang dengan cita citaku. Bunda kemana saat aku harus mengatasi orang orang yang menghinaku.”

Mungkin saat dia bertanya itu, kita hanya bisa diam. Diam karena kita pun tidak kuasa untuk menjawabnya. Keberadaan kita seperti tidak ada. Kita sibuk dengan urusan kita sendiri, sementara mereka juga jauh baik secara fisik maupun secara hati dari kita.

Banyak remaja merasa ‘dibuang’ ketika mereka masuk pesantren. Mereka sudah bilang bahwa mereka ingin di rumah dan dekat dengan ibunya. Mereka ingin agar ikatan dengan ibunya itu menjadi semakin baik. Hubungan anak dan ibu menjadi semakin akrab. Sehingga apapun yang dirasakan anak, ibu juga bisa merasakannya. Tetapi sayangnya, keinginan seperti ini dianggap sebagai keinginan anak cengeng yang tidak perlu didengarkan. Padahal bisa jadi itu adalah keinginan yang muncul dari dirinya pribadi dan itu benar benar tulus.

Saat dia benar benar di pondok, dia akan merasa jauh dari ibundanya. Mulai ada perasaan susah untuk membuka sebuah obrolan. Meskipun sang ibu sudah berusaha untuk lebih dekat dengan caranya sendiri. Tetapi tetap saja dia tidak berhasil.

Perhatikan Remaja Anda
Maka jika Ibunda sedang membaca artikel ini, bisa jadi ibu akan teringat anak ibu yang sedang tidak satu rumah dengan ibu. Mereka anak anak ibu yang mungkin sedang belajar di luar pulau. Jauh dari pelukan hangat ibu. Jauh dari sanak saudara. Dan dia harus bertahan dengan itu semua. Dia harus menghadapi sekian masalah sendirian. Maka jangan biarkan dia sendirian. Luangkan waktu untuk menelepon, mengirim sms, ngobrol di fb atau whatsaap. Mereka butuh kebersamaan dalam keterbatasan. Mereka butuh kebersamaan dalam hidayah islam.
ummi

Ramadan dan Remaja

Guys, ramadan bentar lagi jumpa, kamu dah siapin apa? Saya sudah siapin dawet, es kolak, sama menu kesukaan lontong mas! Tuh kan yang dipikir cuman makanan doang. Kapan sih kamu pada nyadar, ini ramadan bro, bukan pasar malam kales…
Sebagai remaja yang bertanggung jawab sama dakwah, sudah semestinya dong kita care sama ramadan kita. Ada ga di antara kalian yang siapin diri buat ceramah di depan. Ambil semua jadwal kultum tarawih kalau perlu. Kalau ditawarin kuliah subuh, ambil sekalian sebulan penuh bro. Jamaahnya pada bubar bosen sama kamu hehe. 
Atau ada ngga yang punya niatan nyumbangin duit kamu buat takjil. Ngasih buka puasa buat jamaah sore hari di masjid. Pahalanya guede banget tuh. Mayan buat nambah saku ke akhirat kelak. Nah, sekarang tengok tabungan kamu ada berapa tuh? Hah, saldo enol? Tega lu bro.
Apapun, siapkan mulai sekarang ya. Jadi remaja ramadan, yang selalu siap meramaikan ramadan kamu dengan petasan, eh salah dengan amal shalih terbaik!

Burhan Sodiq
Lurah DRI (Dakwah Remaja Islam)

Jangan Hanya Jadi Lidi

Pernah lihat sapu lidi engga? Mereka hanya sekumpulan lidi yang diikat dengan sebuat ikatan kuat. Awalnya mereka sendiri sendiri tapi kemudian bisa bersatu. Maka mafaatnya pun menjadi lebih besar. Jika hanya lidi satu satu saja, tidak bisa membersihkan sampah di halaman rumah kita. Tapi jika menjadu sapu yang terdiri dari banyak lidi, subhanallah halaman rumah bisa bersih.
Sebagaimana pula dengan kita, yang cuman sendiri sendiri seperti ini. Hidup tidak pernah menyapa orang lain, tidak pernah disapa orang lain. Hidup dengan beban sendiri, pikiran sendiri dan kerumitan sendiri. Semua masalah dipikir sendiri, tidak pernah ada solusi. Dilamunin sendiri tak pernah ada jalan keluar.
Tapi jika kita coba ajak orang lain tuk berbagi masalah. Minta solusi dan bermusyawarah, maka semua akan menjadi lebih mudah. Otak kita yang kecil berpadu dengan otak orang lain. Wawasan menjadi lebih luas, peluang solusi bisa nampak di depan mata. Makanya, yuk jadi sapu lidi, yang bisa membersihkan kotoran hati, jangan hanya mau jadi lidi kurus dan kecil itu.

Burhan Sodiq
Lurah DRI (Dakwah Remaja Islam)

Nasihat Hati

Hari indah yang dilalui pasti akan sangat berarti. Saat dia memutuskan memilihmu sebagai istri. Dia sudah tahu bahwa ini adalah bagian terbesar dalam dirinya. Sebab akan ada hal hal yang besar di hadapannya kelak.
Dia mungkin bukan segalanya bagimu. Sebab dia juga ada kekurangan di matamu. Semakin kamu cari, semakin dia akan nampak kerdil di matamu. Tapi jika boleh sedikit berharap, maka berharaplah agar dia berubah.
Berubah menjadi sosok yang lebih kamu cintai. Sebab dia pun sudah mencoba merubah dirinya untukmu. Menjadi lelaki terbaik untukmu. Dengan lemah dan kurangnya dia. Dengan terbatas dan tidak mampunya dia.
Bangkitlah, dan segeralah merajuk ke Allah. Agar tidak ada luka setelah ini, agar tidak ada kecewa setelah ini. Yang ada hanya keridhaan antara kalian berdua. Cinta hanyalah kata, sebelum dia benar benar dibuktikan dengan ketulusan di dada.

Sahabatmu,
Burhan Sodiq.

Majalah Openminds, Sebuah Derap Dakwah Baru…

Selama ini saya mencoba utk fokus di penggarapan dakwah remaja. Sebab saya pikir mereka perlu mendapat banyak masukan dari senior senior mereka. Karenanya saya berpikir bagaimana menyajikan bacaan, media atau apapun yang bisa mereka jadikan rujukan. Saya pun mengail ide, akhirnya ketemu ide membuat majalah. Majalah remaja yang saya pikir ringan saja, secara bahasa, kemasan dan juga penampilan. Tercetuslah sebuah ide, OPENMINDS.

Majalah bulanan ini menjadi sebuah ikon penting bagi dakwah remaja yang sedang saya geluti. Alhamdulillah respon teman teman cukup menyenangkan. Mereka bisa berdakwah dengan media kecil ini. Beberapa mencoba menjadi agen, tapi selanjutnya tidak bisa lanjut lagi. Ada yang berhenti karena aspek terlalu sibuk, ada yang berhenti karena produk tidak laku. Fenomena ini jelas sangat menarik. Karena tidak tiap daerah bisa merespon Openminds dengan ‘ramah’.

Bahkan ada sebuah cerita, seorang teman mencoba masuk ke sekolah menjajakan Openminds. Respon guru malah mencurigai, majalah ini berisi aliran keras. Saya tidak tahu phobia apa yang sedang terjadi. Tapi ini adalah cermin ketidaksiapan guru merespon dakwah remaja ini. Semoga saja hanya di kota itu saja, dan tidak merembet ke kota lainnya.

Di kota Malang, kondisinya jauh berbeda. Mas Abdurahman, sosok ustad muda ini mampu menjajakan pikiran Openminds kepada banyak remaja di kota Malang. Bahkan tirasnya selalu nambah dari bulan per bulannya. Untuk asupan dana, dia diback up oleh beberapa donatur yang menyambut baik majalah mungil ini. Hal ini juga dialami oleh beberapa teman di kota lain seperti Bima, Metro Lampung, Payakumbuh, Medan, dan Jakarta.

Kini, majalah ini sudah masuk edisi ke 15. Rencana kami, selepas Lebaran, kami akan permak lagi majalah ini menjadi semakin tebal. Doakan agar majalah ini bisa lebih eksis lagi di masa yang akan datang. Harapan kami, ada sambutan sambutan manis dari para donatur, para pegiat dakwah dan juga sekolah sekolah Islam. Sehingga dakwah remaja berupa majalah ini menjadi semakin diterima oleh remaja kita.

Anda bisa menghubungi saya, jika anda berminat menjajakan ide Openminds ini. Hubungi saya di burhanshadiq@yahoo.com.cover luar OM12feb_resize

Cantik Karena Rupa

Cinta kadang hadir dengan sangat membingungkan. Mereka yang dulunya mengaku cinta, kini malah saling membenci. Mereka yang dulu saling membenci, kini malah semakin cinta. Apa yang menyebabkan bisa seperti itu?
Jika akhlak orang itu baik, maka saat dia sudah tidak cinta, dia tidak akan membencinya. Adapaun jika dulu dia sangat membenci, kini dia pun tidak akan sangat mencintai. Karena motivasi dia mencintai karena Allah.
Jika suami mencintai istrinya karena rupa, bisa saja kepuasaannya terhadap rupa harus terus dipelihara dengan menjaga kecantikan istrinya. Dengan salon, dengan kosmetik, dengan banyak hal. Tentu saja ini makan duit banyak. Lalu jika ada rupa yang lebih cantik, apakah dia tidak akan tertarik?

Saat Harus Mencari Teman

Anakku…
temanmu adalah agamamu
jika kau salah pilih teman, maka rusaklah agamamu

pilihlah teman yang menambah kelebihanmu
mengingatkan akan dosa dan kesalahanmu
dan membantumu menjadi lebih spesial di hadapan Rabbmu.

jangan pilih teman yang berada di sampingmu
hanya saat kamu dalam kondisi bahagia
dan segera menjauh saat kamu tidak punya apa apa

Pesan ini untuk para remaja yang saat ini sedang tumbuh. Memilih teman yang baik akan membuat hidup kalian terarah. tetapi memilih teman yang buruk, hanya akan membuat kita jauh dari Allah.

Apa enaknya hidup jauh dari Allah. Selalu terlunta lunta dan jauh dari kasih sayangnya. Maka dari itu segeralah cari teman yang bisa mendekatkan kita kepada Allah. Bukan teman yang malah menjauhkan kita dari Allah.