Allah Menyapa Gwe, Sob!

Oleh Bro Salman Refqee

Dulu aku hanya seorang lelaki nakal. Di sekolahku, aku dikenal tukang bolos. Sering banget loncat jendela kelas, sering suksesnya daripada enggaknya. Kemana kalau bolos, ya cuman ke warung Mbah Cip. Di warung itu kami biasa cuman nongkrong. Duduk duduk sambil melakukan hal yang ga ada manfaatnya. Mbah Cip sih diam saja, dia sudah nenek nenek. Lihat perilaku kami seperti itu, dia mana peduli.

Aku juga punya genk. Biasanya kerjaannya duduk di depan kelas lesehan. Kalau ada anak lewat, kita tendangin rame rame. Tendangan itu tidak akan berhenti sebelum anak itu jatuh. “Brukkkk!” baru deh kita ketawa puas.

Masa remajaku kacau. Banyak yang tidak baik. Terisi dengan kegiatan yang mendekatkan aku pada setan. Nafsu anak manusia, yang tak bisa dikendalikan dengan apapun. Maunya berontak saja dari waktu ke waktu.

Lalu saat mahasiswa juga semakin menjadi jadi. Aku kenal barang terlarang narkoba. Hingga pada suatu ketika aku memakai barang haram itu. Sementara dalam kondisi fly, aku mengendarai mobilku. Karena mabuk berat, aku menabrak pohon dan aku mengalami koma.

Kata keluarga, aku sudah tak bisa apa apa lagi. Hanya bisa berbaring dan terpejam. Kondisi seperti ini berlangsung selama 2 pekan kata keluargaku. Nah, selama koma itu, aku mengalami mimpi buruk sekali. Sepertinya aku bertemu malaikat dan aku ditunjukkan pemandangan yang mengerikan.

Seperti sebuah tempat yang penuh dengan penyiksaan. Ruangannya penuh dengan darah dan nanah. Sangat mengerikan. Aku sangat takut berada di tempat itu. Rasa takut yang sangat luar biasa. Dalam kondisi seperti itu aku teringat dosa dosaku selama ini. Aku merasa diriku penuh dengan kesalahan.

Apakah yang kuimpikan itu adalah neraka?
Aku terus bertanya apakah yang kuimpikan dalam masa komaku itu adalah neraka. Karena apa yang aku lihat sungguh sangat menakutkan. Aku tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya.
Kemudian setelah mimpi itu aku diberi kesembuhan. Berangsur angsur aku bisa pulih. Aku sadar dari koma selama dua pekan. Orang pertama yang menyapa aku adalah ibuku.

“Nak, kamu sudah sadar.”
“Iiiibu..”

Airmataku menetes. Tak kuasa aku melihat keharuan ini. Ibuku yang selama ini menunggui aku di rumah sakit. Ayahku sibuk di Jakarta dengan perusahaan eksport importnya. Dengan sabar ibu menunggui aku dan berharap aku bisa segera siuman.

“Ini ibu nak. Kamu sudah bisa mengenali ibu kan?”
“Iya ibu.”
“Kamu tidak sadar selama dua pekan. Kami semua khawatir dengan kondisi kamu.”
Tangan ibu mengusap air mataku lembut.
“Ibu, aku mau cerita sesuatu.”
“Cerita apa nak, ibu akan mendengarkanmu.”
“Saat koma, aku bermimpi buruk sekali bu. Aku melihat banyak sekali orang disiksa. Mereka ada yang dihajar, dihantam, diperlakukan dengan sangat mengerikan. Aku takut sekali bu. Sepertinya ruangan itu penuh dengan darah. Aku tidak pernah melihatnya sebelum ini. Aku takut kalau apa yang aku lihat adalah neraka bu.”
“Oh…”
“Aku ingin taubat bu. Aku rasa hidupku sudah terlalu banyak kesalahan. Aku selalu bikin ibu sedih. Aku banyak sekali menyakiti hati ibu.”

“Subhanallah nak, Ibu senang sekali mendengar kamu ingin taubat. Allah sudah menjawab doa ibu selama ini. Ibu selalu berdoa agar kamu mendapat hidayah nak. Allahu akbar.”

“Iya bu. Aku sudah capek dengan segala kemaksiatan yang aku lakukan selama ini. Aku ingin berhenti dari semuanya.”
Ibu memelukku erat. Seolah olah dia menemukan anaknya yang selama ini menghilang.
***
Kini aku sudah berubah. Aku rajin ke masjid, melakuan kewajiban kewajibanku. Aku tidak pernah terlambat shalat berjamaah. Bahkan sebelum adzan berkumandang aku sudah di lokasi untuk shalat. Keluargaku senang sekali melihat perubahanku ini.

Aku belajar Islam. Banyak sekali yang aku pelajari. Selama ini sepertinya aku tidak kenal dengan agamaku sendiri. Banyak sekali yang tidak aku ketahui. Maka aku baca semua buku buku yang diberi padaku. Teman temanku menjauh. Dulu mereka mendekat saat aku sangat cinta dengan dunia malam. Kini tak ada satu pun yang tersisa. Mereka menjauh semuanya.

Bagiku tidak masalah, perubahan ini memang harus aku bayar dengan bayaran mahal. Semua sudah aku niati dengan baik. Mereka boleh pergi, tapi aku yakin pasti akan ada teman baru yang membuat aku tenang.

Subhanallah, aku merasakan nikmat sekali nikmat hidayah ini menyapa hari hariku. Aku menjadi semakin tenang dalam mendalami agama. Hidupku menjadi semakin terarah. Tubuhku juga semakin sehat. Allah, terima kasih sudah menyapa hidupku lagi…

Dear Wife

Dear Wife,
Lihatlah suamimu di kala dia tertidur lelap. Wajahnya yang lelah adalah bukti bahwa selama ini dia mencoba untuk membahagiakan kamu. Sekuat kuatnya, sebenar benarnya. Dia terus dari hari ke hari berpikir tentang bagaimana bisa membuatmu bahagia. Maka tidaklah heran jika dia menjadi sensitif, mudah marah atau mudah berwajah muram.

Jadi jika dia memang belum bisa menyukupi kebutuhanmu, jika dia juga belum mampu membuat kamu bergelimang dunia, dan jika dia ternyata belum mampu menyediakan istana megah, maafkanlah itu semua. Karena pada dasarnya dia tidak sedang menelantarkanmu. Tangannya yang sudah kasar, keningnya yang sudah mengeriput, dan urat lengannya yang sudah mulai bermunculan menjadi tanda betapa dia sudah sangat serius mengusahakan itu.

Alangkah indah, jika kesungguhannya mencari penghasilan, bertemu dengan rasa syukur anda sebagai seorang istri. Meski hanya sekedar ucapan, “Terima Kasih Suamiku…atas segala apa yang telah kamu berikan padaku.” Sungguh kalimat itu bagaikan semilir air sejuk pegunungan di tengah terik panasnya siang.

Suami Suami Semoga Paham

Dear Husband.

Tahukah Anda bahwa istri Anda sebenarnya sangat ingin membantu ekonomi Anda. Tahukah Anda bahwa setiap saat istri Anda berpikir bagaimana meringankan beban di pundak Anda. Tahukah pula bahwa istri Anda juga sangat berharap bisa menenangkan pikiran Anda yang berkecamuk soal dunia?

Tapi sungguh mereka punya banyak keterbatasan. Pekerjaan rumah tiada habisnya. Selesai satu sudah menunggu pekerjaan lainnya. Usai cucian menunggu setrikaan. Usai setrikaan menunggu sapu dan lap pel di bagian ruangan. Usai nyapu menunggu piring kotor penuh di belakang. Usia piring kotor menunggu sayur mayur yang masih mentah untuk disulap menjadi masakan lezat. Bahkan mereka harus berani menelan kekecewaan bila ternyata masakan itu tidak enak. Atau Anda pulang dengan bilang, “Maaf, aku tadi sudah makan di luar.”

Jadi, semoga tulisan ini sedikit bisa membantu para suami paham, bahwa sungguh para istri itu sangat ingin membantu Anda. Meski tangan dan kakinya tidak bisa berbuat banyak untuk itu.

Belajar Dari Sapu Lidi

Pernah lihat sapu lidi engga? Mereka hanya sekumpulan lidi yang diikat dengan sebuat ikatan kuat. Awalnya mereka sendiri sendiri tapi kemudian bisa bersatu. Maka mafaatnya pun menjadi lebih besar. Jika hanya lidi satu satu saja, tidak bisa membersihkan sampah di halaman rumah kita. Tapi jika menjadu sapu yang terdiri dari banyak lidi, subhanallah halaman rumah bisa bersih.

Sebagaimana pula dengan kita, yang cuman sendiri sendiri seperti ini. Hidup tidak pernah menyapa orang lain, tidak pernah disapa orang lain. Hidup dengan beban sendiri, pikiran sendiri dan kerumitan sendiri. Semua masalah dipikir sendiri, tidak pernah ada solusi. Dilamunin sendiri tak pernah ada jalan keluar.

Tapi jika kita coba ajak orang lain tuk berbagi masalah. Minta solusi dan bermusyawarah, maka semua akan menjadi lebih mudah. Otak kita yang kecil berpadu dengan otak orang lain. Wawasan menjadi lebih luas, peluang solusi bisa nampak di depan mata. Makanya, yuk jadi sapu lidi, yang bisa membersihkan kotoran hati, jangan hanya mau jadi lidi kurus dan kecil itu.

Inspirasi Sederhana

Pulang dari radio, ada sebuah pemandangan menarik. Seorang ibu menggunakan mukena shalat di sebuah emperan toko. Padahal lokasi dia termasuk lokasi yang dianggap kurang baik. Tetapi ibu itu tetap sama menjalankan shalat maghrib.

Di lokasi berbeda saya menjumpai seorang ibu membeli kelapa muda. Tak sengaja saja lihat jemari ibu itu bergerak bergerak seperti sedang tasbih. Subhanallah, semoga ibu itu benar benar bertasbih. Dia tidak meninggalkan kesempatan sesempit apapun untuk tetap berzikir.

How about you guys? Apakah selama ini kamu juga tidak meninggalkan shalat meski kamu sangat sibuk? Apakah kamu juga selalu berzikir dalam setiap kesempatan yang kamu miliki. Saatnya berbenah guys, melakukan yang baik baik agar kita selalu jadi baik.

Selamat Jatuh Cinta

Cinta bisa dimulai dari apa saja. Bisa dari perjumpaan tak sengaja di jalan sempit. Dia mau ke sini kamu mau ke sana. Bisa juga hanya karena pulang dari masjid yang sama. Kebetulan jalan yang dilalui juga sama. Kamu di depan dan dia di belakang. Merasa diperhatikan padahal dia udah belok dari tadi. Yah tiwas udah jalannya digagah gagahin.

Cinta juga bisa karena terlalu sering di kelas. Sering curi pandang dia saat pak dosen menerangkan. Tiba tiba lisanmu berbisik lirih berdoa menyebut nyebut namanya. “Ya Allah kau hadirkan makhluk seindah itu…” Abis itu harusnya kamu istighfar yang banyak karena memandang dengan taladzuz tidak diperkenankan. Taladuz itu bernikmat nikmat. Mandang dia sampai lama banget hingga muncul imajinasi yang terhingga.

Tapi bagi beberapa orang cinta bisa sangat sederhana. Dijodohin ustadnya, lalu mencoba mencintainya. Saat dia sudah di ruang yang sama, 24 jam bersama apakah ada tembok yang bisa menghalangi rasa keduanya? Tidak ada. Mereka bisa jatuh cinta, meski mereka tidak paham cinta itu apa.

follow @burhanshadiq

Saya Ingin Dengar Teriakanmu

 

Dunia sudah berubah. Banyak kejadian yang membuat kita membuka mata lebar-lebar. Islam sudah mulai tumbuh pesat di beberapa negara Eropa. Semakin dihantam, semakin luar penyebarannya. Islam menjadi agama yang menyenangkan bagi penduduk dunia.

Tidak cuma artis, politisi, pejabat publik, bahkan atlit berbondong bondong masuk Islam. Mereka ada yang masuk islam karena budaya, karena Quran, karena pernikahan, atau karena sebuah mimpi, tapi semuanya menegaskan bahwa Islam adalah agama pilihan.

Lalu bagaimana denganmu kawan? Apakah engkau menjadi bagian dari berita gembira ini?

Berjuta-juta pemuda berpikir keras untuk memajukan agama ini. Mereka berpikir keras untuk memajukan dakwah. Agar islam menjadi agama jaya di tengah tengah manusia. Mereka tidaklah orang yang pandai agama, mereka hanya orang biasa biasa saja. Tapi mereka paham untuk apa mereka diciptakan. Lalu, bagaimana dengan kamu?

Berjuta juta pemuda muslim, menyibukkan diri dengan kegiatan bermanfaat. Mereka meramaikan masjid, menyelenggarakan kajian kajian keislaman. Mereka melakukan dengan suka ria, tidak ada paksaan, karena tahu pilihannya adalah Allah dan RasulNya. Mereka sibukkan diri dengan itu semua.

Lalu bagaimana dengan hidupmu 24 jam sehari itu? Apakah semua hanya habis di dalam kamar dan bermain game? Atau habis di ruang ruang karoke bersama teman temanmu? Ataukah semua waktumu habis oleh canggihnya gagdetmu, iya, gadgetmu yang smart itu. Tidak adakah semenit saja mengingat Rabbmu? Aku, ingin mendengar teriakan taubatmu…

 

Merasa Kesulitan Menulis?

Oleh Burhan Sodiq

Pernahkah merasa susah merangkai ide dan gagasan dalam tulisan. Kadang sudah merasa bisa saat melihat tulisan orang lain. “Alah, kalau cuman kayak gitu, gwe juga bisa bro. Kecil itu mah!” Dengan mudahnya kita meremehkan tulisan orang, dan merasa jago dengan kemampuan diri kita sendiri.

Tapi segera setelah itu kita pulang. Buka laptop dan komputer, ternyata, susahnya merangkai kalimat pertama. Seperti tercekat, keangkuhan yang besar tadi tak cukup mampu untuk menggerakkan tangan kita mengukir kata via keyboard. Ide buntu, membeku kayak es di dalam freezer.

Inilah kendala kita dalam menulis. Susah dan sulit karena memang belum terbiasa. Tapi kalau sudah terbiasa, hanya dalam waktu singkat, kita akan bisa menyelesaikan tulisan dalam beberapa halaman. Sayangnya, kita enggan belajar. “Halah, cuman pengen nulis saja pake belajar, mending belajar sendiri ntar juga bisa.” Ilmu itu memang mahal, tidak mudah didapati dan dibutuhkan kerja keras!

Jangan Menunda, Segera Berkarya

Oleh Burhan Sodiq S.S

Gimana sih rasanya kalau selalu jadi orang yang tertinggal. Baru mikir ide, ternyata sudah ada orang yang membuat ide itu duluan. Baru wacana di kepala, eh ternyata sudah ada barangnya. Baru kepikiran sebentar sudah ada teman yang bikin dengan lebih bagus. Duh duh duh kenapa bisa begitu ya?

Penyebab utama kita sering jadi remaja telat, adalah kita tidak segera mengeksekusi ide ide kita. Allah sudah memberi kita ilham dari berbagai cara, tapi kitanya tidak segera mengeksekusi ilham itu menjadi sebuah karya besar. Kita lebih memilih menunda nundanya hingga lama banget tidak segera dilakukan.

Faktor suka menunda inilah yang selalu menjadi masalah remaja kita. Karena kebanyakan menunda, kita menjadi kehilangan momentum terbaik. Selalu saja terlambat dibandingkan yang lainnya. Kalau sudah begini yang akan menyesal kamu sendiri.

Maka tugas terberat dan terserius yang harus kamu lakukan adalah mencoba mengatasi rasa menunda ini. Mampukah kamu selalu sigap jika memiliki ide atau gagasan. Tidak pakai lama, langsung melakukan langkah langkah riil. Misalnya mengumpulkan teman tuk melakukan ide itu. Menggagasnya dengan lebih detail dan lain lainnya. Jika semua sudah terkumpul, baru eksekusi ide itu segera bisa dijalankan.

Karena apa? Jika kita terus mengikuti keinginan menunda, maka kita tidak akan pernah bisa melesat ke depan. Yang ada hanya nongkrong di belakang terus dan tidak pernah menjadi yang pertama dalam kebaikan. Karena menunda sesuatu yang baik, itu sama halnya dengan tidak mensyukuri apa yang kita dapatkan sekarang ini.

Sekarang pasang keinginan kamu. Buka seluruh sisi kepekaan kamu. Serap semua ilham yang telah Allah sebar kepada kamu. Lalu jangan menjadi pribadi penunda terus, ambil kesempatan pertama, dan lakukan segera. Sebelum kamu menyesal di kemudian hari, maka ambil keputusan secepat cepatnya.

Ibu dan Kebersamaan Keluarga

Oleh Burhan Sodiq

Dalam sebuah perjalanan saya melihat ada sebuah keluarga muslim. Ayahnya mengenakan baju gamis panjang. Ibunya juga mengenakan kerudung lebar. Nampak duduk bersama mereka lima anak anaknya memadati bus yang kami tumpangi bersama.

Ayahnya diam saat melihat anak anaknya memainkan hape. Salah satu anaknya sangat asyik memakai headset di kedua telinganya. Saya tidak yakin itu sebuah suara murattal. Sebab saya lihat kaki anak itu bergerak ke sana kemari, sembari kepalanya manggut manggut menikmati suara di telinganya.

Anak satunya lagi asyik pula dengan hapenya. Dia pegang hape itu dan tanpa peduli sekitarnya, dia main aneka permainan yang ada di sana. Sedangkan tiga anak yang lain masih kecil kecil. Anak yang paling kecil masih mencoba berjalan ke sana kemari. Sesekali abinya teriak teriak, karena anak kecil itu hampir jatuh saat berjalan. “Oey, jalannya diperhatikan. Jangan jatuh.” Begitulah teriak sang Abi.

Lalu apa yang dilakukan Uminya? Uminya asyik juga dengan hape kesayangannya. Layarnya besar, 5 inch kelihatannya. Dia hanya sesekali mengelak saat anaknya yang gadis ingin meminjam hape kesayangan uminya.

Begitulah kira kira kondisi kita hari ini. Kebersamaan keluarga menjadi sebuah barang yang sangat mahal. Jasad bisa jadi dalam ruang yang sama, tetapi masing masing sibuk dengan permainannya. Kemanakah kebersamaan itu pergi? Apakah ia tertelan oleh kesibukan yang sangat padat? Atau ia hilang terbawa keegoisan pribadi?

Hasil riset Ipsos dan Oreo 2011 lalu, dimana 50 persen orang tua Indonesia lebih memprioritaskan perekonomian rumah tangga dibandingkan memiliki waktu cukup bersama anak-anak. Tuntutan ekonomi semakin tinggi maka kebersamaan menjadi barang yang sangat mahal. Sayangnya kita tidak bisa membeli kebersamaan itu.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Anna Surtiariani, S.Psi., M.Si., untuk mencegah kualitas momen kebersamaan keluarga agar tidak memudar akibat teknologi, orang tua harus mempunyai batasan dan wawasan yang cukup agar teknologi dapat digunakan secara bijak karena orang tua bertanggung jawab atas setiap informasi yang diterima oleh anaknya melalui teknologi.

Kita Kecolongan
Seperti orang yang terheran heran, kadang sebagai Abi dan Umi, kita hanya bisa tercengang melihat fenomena ini. Saat anak anak kita tumbuh menjadi remaja remaja baru. Saat itu pula kita merasa ada apa dengan mereka. Kenapa mereka menjadi sosok anak yang kita sendiri tidak paham perilakunya.

Mereka sedang tumbuh, bunda. Tumbuh menjadi anak anak remaja yang dunianya berbeda dengan dunia anak anak sebelumnya. Mereka menjadi sosok sosok yang tidak bisa lagi dianggap anak anak. Maka tidak heran jika bunda akan temukan mereka kadang bisa bersikap sangat agresif ketika marah.

Bunda kaget, ada apa dengan anak saya. Kenapa dia menjadi seolah olah bukan anak saya? Kemana anak saya yang lucu dulu? Kemana anak saya yang periang itu? Kini yang bunda hadapi adalah anak anak dengan keinginan dia yang besar. Anak anak yang selalu ingin dituruti. Anak anak yang selalu ingin diwujudkan keinginannya.

Kita kecolongan. Masa masa pendekatan pada mereka sudah banyak kita habiskan untuk sibuk dengan diri kita sendiri. Terkadang semakin lama semakin kita rasakan kita semakin jauh dengan anak anak kita. Bukannya kita semakin dekat dengan mereka, tetapi malah kita semakin jauh.

“Bunda kemana saat aku lagi butuh bunda. Bunda kemana saat aku harus menghadapi masalah masalahku. Bunda kemana saat aku harus berjuang dengan cita citaku. Bunda kemana saat aku harus mengatasi orang orang yang menghinaku.”

Mungkin saat dia bertanya itu, kita hanya bisa diam. Diam karena kita pun tidak kuasa untuk menjawabnya. Keberadaan kita seperti tidak ada. Kita sibuk dengan urusan kita sendiri, sementara mereka juga jauh baik secara fisik maupun secara hati dari kita.

Banyak remaja merasa ‘dibuang’ ketika mereka masuk pesantren. Mereka sudah bilang bahwa mereka ingin di rumah dan dekat dengan ibunya. Mereka ingin agar ikatan dengan ibunya itu menjadi semakin baik. Hubungan anak dan ibu menjadi semakin akrab. Sehingga apapun yang dirasakan anak, ibu juga bisa merasakannya. Tetapi sayangnya, keinginan seperti ini dianggap sebagai keinginan anak cengeng yang tidak perlu didengarkan. Padahal bisa jadi itu adalah keinginan yang muncul dari dirinya pribadi dan itu benar benar tulus.

Saat dia benar benar di pondok, dia akan merasa jauh dari ibundanya. Mulai ada perasaan susah untuk membuka sebuah obrolan. Meskipun sang ibu sudah berusaha untuk lebih dekat dengan caranya sendiri. Tetapi tetap saja dia tidak berhasil.

Perhatikan Remaja Anda
Maka jika Ibunda sedang membaca artikel ini, bisa jadi ibu akan teringat anak ibu yang sedang tidak satu rumah dengan ibu. Mereka anak anak ibu yang mungkin sedang belajar di luar pulau. Jauh dari pelukan hangat ibu. Jauh dari sanak saudara. Dan dia harus bertahan dengan itu semua. Dia harus menghadapi sekian masalah sendirian. Maka jangan biarkan dia sendirian. Luangkan waktu untuk menelepon, mengirim sms, ngobrol di fb atau whatsaap. Mereka butuh kebersamaan dalam keterbatasan. Mereka butuh kebersamaan dalam hidayah islam.
ummi