Kerjaan menunggu, tapi masih pengen nulis dulu. Buku yang satu belum lagi selesai, sudah muncul 3-4 ide buku yang menunggu dikerjakan. Menulis memang rawan ketagihan. Saat buku jadi di depan mata, rasa pengen menulis lagi mengalir berjuta-juta. Doakan bisa tetap menjadi Bookfighter ya!

Kantor lagi rame persiapan launching toko buku baru. Saya malah sibuk dengan persiapan nanti sore ada kajian di Sukoharjo. Sebuah jambore anak islam yang rame, mudah-mudahan. Besuk paginya harus melesat ke Magetan, bersama temen-temen SMA di sana. Alhamdulillah buku yang dibedah dijanjikan akan dikirim dari percetakan hari ini. Semoga saja jadi, soalnya kemarin panitia sempat ketar ketir. Sudah kebayang indahnya telaga Sarangan dan beli sepatu di Magetan yang terkenal itu. Doakan lancar ya!

Kring! Hape berbunyi. Ternyata bapak tercinta di ujung telepon. Meminta saya mengantar beliau kontrol ke dokter jantung yang sudah 5 tahun tidak dikunjungi lagi. Bapak lemas, batuk-batuk dan sakit uluhatinya kalau ingin makan. Tanpa pikir panjang, dari kantor saya melesat menuju rumah mengambil helm. Ganti baju kemudian berlari menuju rumah bapak di kampungsewu. Sesampainya di sana, disambut senyuman ibu, tetap ceria seperti biasa. Ibu yang sangat mengagumkan bagi saya.

Sebelum Maghrib, kami berdua berangkat dengan motor Karisma bututku. Pelan, tidak berani ngebut karena penumpangnya bapak yang sedang sakit. Nafas beliau lemah, kelihatan lemas sekali. Kasihan. Sesekali batuk, dan sangat mengganggu nampaknya. Saya duduk di depan, kali ini postur tubuh sudah agak seimbang. Kalau dulu saya kurus cengkring, usia SMA bisa dibayangkan seperti apa. Kini, semua berubah, tubuh saya mengembang, bapak pun kalah saingan.

Sampai di tempat praktek, ternyata berubah. Sang dokter sudah pindah praktek ke RS PKU Muhammadiyah Solo. Tukang parkir yang baik hati, memberitahu kami info tentang itu. Terima kasih ya pak. Sampai lupa bilang terima kasih. Tanpa pikir panjang, double starter dipencet dan kembali menggelinding ke PKU.

Sampai di PKU, kondisi sepi. Penjaga lobby masih shalat maghrib. Saya menunggu. Dalam beberapa menit, bapak sudah mendaftar, dan langsung kami tinggal untuk shalat dahulu. Mushola yang kecil, paling cukup untuk 10 orang. Lebih mungil dari bangunan rumah sakit yang megah dan mewah itu. Namanya juga mushola, kalau gede maka masjid namanya.

Allohummasyfie Bapak

Duduk sejenak di ruang tunggu pasien. Kursi empuk berwarna hijau, seperti warna cendol di es dawet. Tak lama keluar ibu perawat yang baik meminta kami masuk. Bapak di depan, saya menunggu di kursi yang lain. Obrolan dokter dan pasien pun dimulai. Pak dokter memakai bahasa jawa ngoko, sementara bapak harus memakai bahasa jawa halus. Duh kasihan bapak, kesannya gimana gitu. Mending enakan pakai bahasa nasional, jadi saling menghargai.

Setelah diperiksa, ternyata tensi bapak tinggi, 190/110. Saya khawatir, sebab dulu memang pernah kena serangan jantung. Reseppun diberikan, tertulis nominal sekian ratus ribu. Anak yang baik, saatnya menunjukkan baktimu, bayarlah bon itu. Tanganku pun menggamit dompet. Uang itu saya lunasi, meski tidak semuanya. Obat didapat, kita sepakat pulang. Tinggal di rumah ibu sebentar, akhirnya saya pulang ke rumah kontrakan. Di depan rumah istri dan dua anak menunggu. Wajah penuh senyum menyeringai menyambutku. Bahagia, dan memang tiada duanya!

The Power of Blog

Blog mengajarkan kepada kita untuk jujur menulis apa adanya. Tanpa menutupi dan tanpa harus menjadi orang lain. Namun kadang kita tidak bisa begitu jujur ngomong di blog. Ada sisi-sisi yang tidak perlu diekspose, tidak perlu diungkap dan tidak perlu diberitahukan kepada pembaca. Selain hal itu tidak penting, kadang berlebihan kalau disampaikan.

Nah, nampaknya sesuatu itu banyak. Misalnya hal-hal yang ada hubungannya dengan hubungan dengan orang lain, hubungan dengan bos di kantor dan lain sebagainya. Misalnya saja saya lagi marah sama orang lain, maka saya tidak perlu menyebut nama dia dan memaki-maki dia di blog saya. Karena disamping itu primitif, juga tidak bagi bagi kesehatan blog saya.

Justru yang menurut saya penting saat ini adalah, bagaimana blog bisa menggambarkan suasana hati kita. Apakah sedang dirundung masalah, dililit hutang ataukan sedang bahagia dan senang. Dari tulisan yang dibikin, seorang pembaca sebenarnya bisa mengetahui logika penulisnya. Apakah penulis dalam kondisi bingung, ataukah dalam kondisi yakin dengan apa yang ditulisnya. Betul kan?

Ahad lalu, harusnya saya diminta memberi tausyiah di sebuah acara lulusan pesantren di Sukoharjo. Tapi saya urungkan acara itu karena batuk. Uhuk, ambruk dan istirahat sejenak biar kembali gemuk. Hehehe. Apa saya akhirnya istirahat? Ternyata tidak, saya malah mengantar istri ke calon rumah di daerah Palur. Berdua menaiki sepeda motor, ditemani ayah tercinta dengan sepeda yang lainnya.

Rumah itu sekarang sudah nampak menuju bentuk aselinya. Meski saya yakin akan ada banyak keajabainan suatu saat nanti. Tapi beginilah dulu, semoga sabar, dan kelak akan bisa memperbaikinya pelan-pelan. Kata orang tua, yang penting bisa buat tidur. Sederhana sekali ya, tapi penuh makna. Saya lihat kamar yang bakalan akan menjadi kamar kerja, mengetik tanpa henti jutaan kata dari kepala. Membaca referensi yang berjubel di antara rak buku yang masih muda. Meloncat girang manakala apa yang dicari telah ditemukan, tetapi kembali manyun manakala tidak bisa menyambung paragraf yang membingungkan.

Inilah babak baru dalam hidupku. Sebuah peluang yang diambil dengan segala keterbatasan. Tapi kata istri, “Bah, Kita punya Allah. Dia lah tempat aku dan kamu bergantung. Semangat ya!” Istriku kamu baik sekali! Siang harinya pulang ke kontrakan. Pengen bersih-bersih rumah, menguras tandon air yang sudah lanjut usia, pecah-pecah dan tidak lagi menawan. Ohya, tugas kuliah belum tersentuh, nampaknya kudu lembur lagi malam ini.

Older Posts »