Mudahnya seorang bermaksiat, bisa jadi karena dia menganggap ringan maksiat tersebut. Apalagi bila dia punya slogan, “Saya kan manusia, tempat salah dan lupa. Jadi wajar dong kalo saya punya dosa, wajar pula kalo saya bermaksiat…” Maka hati akan tertutup oleh hidayah dan lebih mudah memandang maksiat sebagai sesuatu yang ringan dan enteng-enteng saja.

Padahal dampak maksiat itu banyak loh. Pertama, dia akan terhalang oleh ilmu yang bermanfaat. Ilmu itu cahaya, tetapi bagi mereka susah ditembuh oleh cahaya ini. Sehingga hatinya gelap, tertutup oleh masuknya ilmu. Jadi kalau kita selama ini susah nyantol kalao ikut pengajian, susah ngapal hadits sama ayat quran, mungkin saja karena maksiat kita udah tertalu tebel. Jadi harus ada kerja bakti bersih bersih hati.

Kedua, dia akan jauh dari rejeki yang barakah. Hidupnya sempit, rejeki menjauh dan susah. Karena sesungguhnya seorang hamba akan terhalang dari rizki dikarenakan maksiat yang dilakukannya.

Ketiga, Gelisah dalam hati. Gemuruh gaduh tak henti-henti, menari-nari di kepingan hati. Membuat gundah gulana karena takut adanya siksa. Membuat hidup terbayang-bayang dosa yang gedenya melebihi raksasa. Tidak ada ketenangan sama sekali.

Keempat, Hilangnya ketaatan. Ia akan terhalang dari ketaatan ketaatan yang lain kepada Allah. Setiap kali dia bermaksiat, maka setiap kali itu pula dia melanggar perintah Allah. Ketaatan satu persatu menjauh dari dirinya. Sehingga jiwanya gamang setiap saat. karena ia tidak mampu mendekat Allah dengan baik.

Kelima, Kemaksiatan akan melahirkan kehinaan.Kemuliaan itu hanya ada pada Allah, maka kalau kita ingin mendapatkan kemuliaan, kita harus taqarrub kepada Allah. Menjauhi maksiat dan menjadi hamba yang mau mendekatkan diri kepada Allah.

Semoga catatan kecil ini bermanfaat buat kita semua.

Tuntaskan Ramadan dengan amalan andalan!

Oleh: Burhan Sodiq

Jalan kita sudah berlalu lama. Panjang dan masih panjang terbentang. Ada bagian yang mungkin tidak sempurna, sapa hati, sapa jiwa atau bahkan mungkin kesalahan yang tidak sengaja. Berkumpul menjadi satu, mendewasakan komitmen yang kita jalin. Bersama membentuk karakter cinta, yang sudah kita mulai sejak dulu, saat kamu menerima pilihanku. Semuanya menjadi indah, saat aku tahu kamu menerima aku menjadi belahan jiwamu.

Seperti berenang di lautan, ada ketakutan kita akan karam. Seperti mendaki gunung bebatuan, khawatir jatuh dan tertimpa reruntuhan. Tapi nanar mata berpendar-pendar, saling menguatkan dalam segala sisi kelemahan. Ada hati yang selalu mau mengerti dan memaafkan. Ada diri yang selalu mau mendampingi, melindungi dan membuat kita nyaman.

Ruang-ruang itu semakin luas membentang, dengan hadirnya buah hati yang lucu dan menggemaskan. Seperti bunga dengan kelopaknya, seperti kupu dengan sayap-sayapnya. Bangunan cinta semakin indah merekah. Memenuhi langit hati yang tidak lagi sendiri. Membumbung tinggi ke angkasa dengan gagah.

Ramadan kali ini sebagai saksi. Akan jalinan ini akan selalu terpatri. Mungkin ada canda yang berlebih, atau kata yang berbuih. Tapi semua itu hanya ingin menunjukkan sebentuk perhatian mendalam, dari hati yang paling dalam. Kata-kata yang dirangkai pelan, agar sampai ke relung jiwa dan hati pualam.

Masih panjang jalan menuju kemenangan. Masih jauh kaki melangkah menuju ridha Ar Rahman. Ku butuh kamu tuk sempurnanya aku. Sebagaimana kamu butuh aku tuk sempurnanya dirimu. Segala harap pada Ilahi Rabbi, semoga selalu menjadi hati hati kita dalam naungan cintaNya.

Beberapa saat lalu istri saya kedatangan tamu. Dua orang ibu-ibu yang ingin bercurhat tentang keluarganya. Salah satunya merasa salah memilih suami. Karena suami dia punya banyak kekurangan. Istri kemudian bercerita ke saya, karena kedua ibu itu sempat menulis beberapa catatan untuk diberikan kepada saya. Harapannya saya bisa memberi mereka solusi terbaik atas kondisi suaminya itu. Saya pun menghela nafas agak panjang. Ketika mengetahui masalah mereka ternyata cukup parah dan cukup pelik.

Beberapa saat berlalu, saya terlibat sebuah obrolan dengan teman. Dia mengeluhkan kondisi keluarganya yang sedang dililit hutang. Penghasilan tidak sebanding dengan pengeluaran. Masuknya segini, tapi pengeluaran segitu besar. Dia bingung. Istrinya juga sempat nangis karena tidak menemukan solusi atas masalah mereka. Hidup seperti dikejar-kejar, begitu katanya. Saya juga hanya bisa menghela nafas panjang. Ini masalah berat. Saya mencoba berempati. Saya menyarankan cobalah mengurangi hutang dengan menjual apa yang bisa dijual. Tidak tahu, apa dia menerima saran saya ataukah enggak. Setidaknya saya sudah berusaha.

Sobat, masalah itu banyak. Setiap orang punya masalah. Saya juga ada masalah, tapi mungkin tingkat ujiannya berbeda-beda. Allah memberi kita soal sesuai dengan kapasitas kita. Orang hebat, dikasih ujian yang hebat. Orang yang belum hebat dikasih ujian hebat agar dia segera menjadi hebat. Intinya kita kudu bersyukur atas apa yang menimpa kita. Karena sangat mungkin ada orang yang memiliki masalah lebih besar dan lebih rumit dari apa yang kita alami.

Kita sedang berproses untuk menjadi hamba yang bertakwa. Di bulan mulia, bulan penuh harap dan cita-cita. Mencari yang terbaik dan menuai yang terbaik pula. Anak istri dan keluarga adalah ujian. Kadangkala kita bisa mengatasi masalah yang muncul, tapi kadang kala kita berada pada titik buntu, tidak tahu harus bagaimana.

Kepada Allah lah kita berharap dan menumpukan segala pinta. Semoga teman saya tadi segera dapat jalan keluar. Dan dua ibu tadi segera mendapatkan solusi atas masalahnya. Karena saya yakin, Allah Maha Melihat kesulitasn hambaNya. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanNya yang shalih dan shalihah.

Iktikaf Engga?

Sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sudah mulai menjelang. Saatnya bersiap untuk mengasingkan diri di masjid-masjid Allah. shalat, dzikir, baca Quran dan tentu saja bermunajat kepada Allah dengan segala harap dan takut kepadaNya. Amalan yang satu ini memang khas. Tidak bisa diganti dengan amalan lain. Karena amalan ini membutuhkan kesabaran dan keuletan. Setidaknya takmir harus mendukung amalan ini dengan fasilitas mesjid yang memadai.

Ibadah iktikaf membutuhkan keseriusan. Tidak boleh banyak ngomong, ngumpul-ngumpul tidak jelas, dan membuang waktu percuma. Ada tuh iktikaf tapi masih bawa laptop, hape dan bahkan update status fb. Sebaiknya iktikaf bersih dari itu semua. Sayang kalau seandainya iktikaf menjadi sesuatu yang biasa biasa saja.

Sekarang cari masjid yang nyaman buat iktikaf. Jangan banyak tidur, tapi banyaklah mengaji dan berdzikir. Agar dosa kita bersih dan jiwa kita menjadi semakin matang. Sudah siap?

Older Posts »