Kring! Hape berbunyi. Ternyata bapak tercinta di ujung telepon. Meminta saya mengantar beliau kontrol ke dokter jantung yang sudah 5 tahun tidak dikunjungi lagi. Bapak lemas, batuk-batuk dan sakit uluhatinya kalau ingin makan. Tanpa pikir panjang, dari kantor saya melesat menuju rumah mengambil helm. Ganti baju kemudian berlari menuju rumah bapak di kampungsewu. Sesampainya di sana, disambut senyuman ibu, tetap ceria seperti biasa. Ibu yang sangat mengagumkan bagi saya.
Sebelum Maghrib, kami berdua berangkat dengan motor Karisma bututku. Pelan, tidak berani ngebut karena penumpangnya bapak yang sedang sakit. Nafas beliau lemah, kelihatan lemas sekali. Kasihan. Sesekali batuk, dan sangat mengganggu nampaknya. Saya duduk di depan, kali ini postur tubuh sudah agak seimbang. Kalau dulu saya kurus cengkring, usia SMA bisa dibayangkan seperti apa. Kini, semua berubah, tubuh saya mengembang, bapak pun kalah saingan.
Sampai di tempat praktek, ternyata berubah. Sang dokter sudah pindah praktek ke RS PKU Muhammadiyah Solo. Tukang parkir yang baik hati, memberitahu kami info tentang itu. Terima kasih ya pak. Sampai lupa bilang terima kasih. Tanpa pikir panjang, double starter dipencet dan kembali menggelinding ke PKU.
Sampai di PKU, kondisi sepi. Penjaga lobby masih shalat maghrib. Saya menunggu. Dalam beberapa menit, bapak sudah mendaftar, dan langsung kami tinggal untuk shalat dahulu. Mushola yang kecil, paling cukup untuk 10 orang. Lebih mungil dari bangunan rumah sakit yang megah dan mewah itu. Namanya juga mushola, kalau gede maka masjid namanya.
Allohummasyfie Bapak
Duduk sejenak di ruang tunggu pasien. Kursi empuk berwarna hijau, seperti warna cendol di es dawet. Tak lama keluar ibu perawat yang baik meminta kami masuk. Bapak di depan, saya menunggu di kursi yang lain. Obrolan dokter dan pasien pun dimulai. Pak dokter memakai bahasa jawa ngoko, sementara bapak harus memakai bahasa jawa halus. Duh kasihan bapak, kesannya gimana gitu. Mending enakan pakai bahasa nasional, jadi saling menghargai.
Setelah diperiksa, ternyata tensi bapak tinggi, 190/110. Saya khawatir, sebab dulu memang pernah kena serangan jantung. Reseppun diberikan, tertulis nominal sekian ratus ribu. Anak yang baik, saatnya menunjukkan baktimu, bayarlah bon itu. Tanganku pun menggamit dompet. Uang itu saya lunasi, meski tidak semuanya. Obat didapat, kita sepakat pulang. Tinggal di rumah ibu sebentar, akhirnya saya pulang ke rumah kontrakan. Di depan rumah istri dan dua anak menunggu. Wajah penuh senyum menyeringai menyambutku. Bahagia, dan memang tiada duanya!